COWOK COOL falling in love
Aku
renaldy seorang mahasiswa yang terkenal cool dan tidak banyak bicara, aku biasa
dipanggil aldy. Aku sendiri gak tahu kenapa mereka semua mengatakan aku cool.
Padahal aku rasa sikap dan penampilanku biasa-biasa saja. Tapi, ya sudahlah hal
semacam itu gak perlu di bahas panjang lebar, yang jelas sikap dan penampilan
aku sama sekali tidak menyakiti ataupun membuat mereka rugi. Karena
kenyataannya pembawaan diriku memanglah seperti ini, jadi terserah mereka saja
mau memberikanku tittle cowok cool, aku sih fun ajaa selama itu masih dalam
batas kewajaran.
Pagi
ini aku harus cepat pergi ke kampus sebab pagi ini aku ada jam mata kuliahnya
pak rinto, pak rinto itu guru paling killer di kampus aku dan dia paling
tidak suka dengan mahasiswa ataupun mahasiswi yang tidak tepat waktu dan dia
adalah dosen yang memprioritaskan kedisiplinan. Pokoknya pagi ini aku tidak
boleh terlambat, karena aku tidak ingin dosen favourite ku itu kecewa denganku.
Tapi,
pagi itu tidak semulus yang ku bayangkan. Di tengah jalan ketika sebentar lagi
aku hampir sampai ke kampus tiba-tiba saja sebuah mobil melaju kencang yang
hendak menyalip kendaraanku menabrak seorang bapak yang sedang menaiki sepeda.
Dan anehnya lagi, mobil yang menabrak bapak itu lari. Ya.. sebagai manusia yang
punya naluri, aku harus membantu bapak itu dengan membawanya ke klinik terdekat
biarpun saat ini aku harus dikejar deadline.
Setelah
aku tunggu sampai mahasiswi baru itu selesai memperkenalkan dirinya, aku pun
baru masuk ke kelas. Huh… seperti yang ku bayangkan, pak rinto memarahiku, tapi
aku hanya bisa diam dan meminta maaf kepada pak rinto dan pak rinto bertanya
penyebab keterlambatan aku yang tidak biasa itu. Dan aku pun menjawab “ di
tengah jalan tadi ada yang korban tabrak lari pak… jadi saya membantu korban
tabrak lari itu dan membawanya ke klinik terdekat”
Dan
tiba-tiba saja mahasiswi baru itu membenarkan ucapanku “ iya pak.. tadi saya
melihat ada tabrakan di perempat jalan dekat kampus ini pak.. dan saya juga
lihat dia sedang membantu korban tabrak lari itu pak..”
hingga akhirnya pak rinto pun mengizinkanku
masuk dan tidak menghukumku, hal seperti inilah yang tidak aku inginkan. Mau
gak mau aku sudah berhutang budi kepada mahasiswi baru itu, tapi ya sudahlah
aku bersyukur saja akhirnya pak rinto tidak menghukumku.
Saat
istirahat rio teman dekatku bilang “ lo kok gak bilang terimakasih sih al… sama
tu cewek?”
Aku
pun menjawab “ untuk apa aku berterimakasih ke dia? Yang terjadi itu memang
benar kok!”
‘’
iyaa tapi kalau dia gak ngebantuin lo tadi, pasti lo udah di hukum sama pak
rinto!”
Memang
benar apa kata rio bahwa aku harus berterimakasih kepada mahasiswi baru itu,
tapi.. aku gak punya keberanian untuk berterimakasih kepadanya, jujur aja aku
gengsi untuk lakuin itu. Tapi, kalau aku gak berterimakasih ke dia dimana hati
nurani aku.
Lalu
aku pun menemui mahasiswi baru “ hei… terimakasih ya”
‘’
namaku Dini, dan sama-sama udah kewajiban!”
‘’
tapi… jujur aja aku gak suka di bela seperti tadi, jadi.. ya seperti sekarang
ini deh. Mau gak mau aku harus membalas budi kamu!”
‘’
kamu gak perlu membalasnya, dan aku pun gak butuh sesuatu dari orang yang hanya
berniat membalas budinya kepadaku. Jadii.. ya gak perlu pusing memikirkan balas
budi, karena aku gak butuh balas budi dan yang aku bilang tadi kan memang benar adanya,
jadi buat apa harus balas budi”
Perkataan
cewek tadi sangat mengganggu pikiranku, sepertinya kata-kata dia tadi sangat
dalam artinya. Memang aku salah berkata? Tapi ya sudahlah, dia adalah dia dan
aku adalah aku.
Keesokan
harinya, ketika aku sedang berjalan-jalan sendiri di malam hari. Tiba-tiba saja
seorang pengamen di kejar-kejar orang banyak, karena pengamen itu tidak
membayar makanan yang sudah di makannya. Karena merasa kasihan, aku pun
menolongnya dan membayari makanan yang telah di makannya. Dan anehnya lagi,
Dini mahasiswi baru itu menghampiri aku “ wah.. gak nyangka ternyata kamu baik
juga ya”
Sepertinya
dunia ini begitu sempit, sampai-sampai aku harus bertemu dia lagi rasanya dunia
ini selebar daun kelor. Dan pujiannya itu sangat tidak enak di telingaku, “aku
gak suka di puji seperti itu dan ini adalah kewajiban aku sebagai manusia,
menolong yang lemah”
‘’
ow.. okey, terserah kamu deh! Aku jalan dulu ya!”
Huh…
cewek aneh plus cewek kayak hantu, di kampus jumpa di sini juga jumpa. Tapi, ya
sudahlah gak perlu di bahas. Sesampainya
aku di rumah, aku masih saja memikirkan Dini. Entah kenapa, hal itu bisa
terjadi padaku.
Pagi
ini, karena tidak ada jam kuliah aku pun memutuskan untuk pergi ke toko buku,
aku rasa lebih baik aku nongkrong di toko buku dari pada harus keluyuran.
Sampai di sana ,
ketika aku lihat-lihat buku tiba-tiba saja aku bertemu dengan Dini. Aduh…
kenapa sih ini, lagi-lagi aku harus bertemu dengan Dini. Dia pun menyapaku, dan
aku hanya tersenyum.
Ketika
Dini membayar bukunya di kasir, ternyata uangn tunainya tidak ada dan yang ada
Cuma kartu kredit. Tapi untuk hari ini, membayar buku tidak bisa dengan kartu
kredit,enggak tahu kenapa alasannya tapi yang jelas sependengaran aku begitu.
yah.. lagi-lagi karena kasihan aku pun membantunya dengan membayar uang buku
yang telah diambilnya itu. Tapi, dia malah menolak dan mengatakan bahwa dia gak
mau berhutang budi. Ya, Karena dia gak mau aku pun gak jadi membayar bukunya
itu, aku pun selangkah untuk pergi, tapi
tiba-tiba saja dia memanggilku. Dan mengatakan bahwa dia mau menerima bantuanku
dengan syarat ia pasti akan mengganti atau membalas budi kepada ku.
Dasar
cewek aneh, sukanya ikut-ikutan dibantu gak mau tapi akhirnya mau juga. Lalu
Dini pun mengajakku ke restorannya sendiri dengan maksud berterimakasih
kepadaku. Tapi, aku menolaknya dan dia berkata “ pemberian itu tidak boleh di
tolak, apalagi dengan maksud berterimakasih!”
“kata-kata
dia ada benarnya juga, dan gak salah kalau aku menerima ajakannya” gumamku
dalam hati
Sampai
disana, dia menyuguhkanku menu utama di restorannya itu. Dan disana ia banyak
bertanya kepadaku tentang sikapku kepadanya. Lalu aku menjawab “ memang aku
lakuin itu Cuma sama kamu?”
‘’
terus?” Tanya Dini “ kamu tuh GR banget
ya, sikap aku memang seperti ini!”
‘’oow
begitu!”
Selama
makan siang, dia banyak bercerita dan banyak bercanda kepadaku. Dia juga
berusaha mengajakku untuk tertawa bersama dengan candaan-candaan konyol, dan
dia juga gak seperti yang aku pikirkan selama ini.
Sejak
makan siang itu, hubungan kami berlanjut. Kami sering telpon-telponan, dan
kalau pulang kuliah kami juga sering nongkrong di café. Semua orang yang ada di
café itu heran melihat kedekatan antara aku dan Dini. Dan Dini juga sering
mengadu kepadaku bahwa mahasiswi yang ada di kelas mereka maupun tidak sekelas
bertanya tentang hubungan kita berdua, dan mereka juga bertanya kenapa Dini
bisa dekat dengan ku. Aku pun tertawa, dan Dini bertanya lagi
“ memang apa arti kedekatan kita ini al?”
Tanya Dini
Aku
pun kembali bertanya “ mau kamu apa”
‘’
mau aku sama seperti mau kamu”
“
memang kamu tahu maunya aku apa?”
‘’
emang apa?”
‘’
aku mau kamu jadi seseorang yang berarti di hati ku, memang kamu juga mau itu?”
‘’
iya trus..?” Tanya Dini
‘’
trus… kamu mau jadi pacarku”
‘’
ehm… sebenernya”
‘’sebenarnya
apa?’’
‘’
sebenernya aku juga mau jadi pacar kamu”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar