Mawaddach Hikari Al-durrah- Temukan sesuatu yang beda pada dirimu, belajarlah untuk bisa percaya pada diri sendiri sebelum percaya pada orang lain. Tulislah sejarah dalam sebuah tulisan hingga menjadikan bukti bahwa kau pernah ada di bumi ini.
Aku melihatmu bukan dari sekedar yang tampak..
Aku tidak melihatmu bukan berarti aku menutup hatiku. Aku tidak mendengarmu bukan berarti aku mengacuhkanmu. Aku tidak menganggumu bukan berarti aku melupakanmu. Semua yang tidak ku lakukan bukan semata aku tidak sungguh sungguh atau bahkan aku membohongi diriku sendiri. Karena aku mencintaimu sekedar lebih sederhana, bukanlah lebih dari sekedar cinta yang semu.
Aku melihatmu bukan dari sekedar yang tampak..
Aku tidak melihatmu bukan berarti aku menutup hatiku. Aku tidak mendengarmu bukan berarti aku mengacuhkanmu. Aku tidak menganggumu bukan berarti aku melupakanmu. Semua yang tidak ku lakukan bukan semata aku tidak sungguh sungguh atau bahkan aku membohongi diriku sendiri. Karena aku mencintaimu sekedar lebih sederhana, bukanlah lebih dari sekedar cinta yang semu.
Sikap dan sifatku seringkali menyakiti dan
merugikan orang lain, kebiasaan burukku yang suka marah-marah dan keluyuran
membuat orangtua dan saudara-saudara ku membenciku. Aku selalu mengabaikan
nasehat mereka, aku juga sering melawan ibu dan ayahku. Bagiku temanku it`s
number one,kemanapun aku pergi selalu
bersama mereka. Keluargaku terutama abangku seringkali memarahiku, hanya karena
aku bergaul dengan mereka. Mau bagaimana lagi, ini bukanlah sepenuhnya salahku,
ini semua disebabkan karena keluarga yang gak pernah meluangkan waktunya
kepadaku. Untuk bertatap muka secara langsung saja itu sangat jarang sekali,
mereka sibuk dengan kegiatan mereka sendiri hingga mereka harus mengorbankan
aku. Dan sekarang giliran aku berteman dengan mereka, aku selalu dimarahi dan
dilarang. Aku sendiri tidak tahu bagaimana jika aku tidak mengenal mereka,
dengan keadaanku seperti ini. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku,
mereka hanya mahir dalam menasehati tapi mereka gak akan pernah mengerti apa
arti kekeluargaan yang sebenarnya.
Semakin
keluargaku melarang, semakin aku tidak perduli dengan omongan mereka. Karena
menurutku mereka hanya bisa berbicara dan sedikitpun mereka tidakpernah peka terhadap keadaanku. Mereka juga
tidakpernah berpikir kenapa aku bisa
menjadi seperti ini! Tapi semenjak
alya masuk kedalam hidupku, aku merasa hidupku semakin berwarna. Apalagi kini
sikap burukku semakin berkurang setelah aku mengenal alya. Ia selalu mengingatkan
aku dan teman-temanku dan bukan hanya itu, ia juga mampu menaklukkan hati
teman-temanku. Bagaimana tidak, kata-katanya yang lembut dan santun serta
bijaksana membuataku dan teman-temanku
tidak berani membantah ataupun meragukan kebenaran atas ucapannya itu.
Dialahsatu-satunyawanita yang dapat menggugah hatiku,
kata-katanya yang santun dan penuh makna itulah yang membuat hatiku luluh
hingga aku harus merasakan jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Dari sekian
kata-katanya yang menggugah hatiku, salah satu kata-katanya yang menyadarkan
aku adalah “ lakukan yang terbaik buat dirimu, jangan sia-siakan hidupmu karena
hidup hanya sekali dan waktu tidak akan pernah kembali” .Tapi biarpun aku jatuh
cinta kepadanya, aku gak ingin bila antara aku dan dia nantinya ada yang
terluka. Sebelum aku tahu benar tentang perasaan dia, aku gak akan mengatakan
perasaanku kepadanya.
Wajahnya
yang rupawan dan kata-katanya yang santun sangat menentramkan hatiku, jika aku
ditugaskan untuk melukiskan tentang dirinya, pasti itu adalah pekerjaan yang
sangat berat. Karena semua yang ada padanya, tidak akan bisa di lukiskan sebab
kebesaran Allah dalam menciptakannya hampir sempurna, meskipun manusia
dikatakan tidak ada yang sempurna tapi sampai saat ini aku belum menemui celah
ketidaksempurnaan dari dirinya.
Sampai
saat ini aku belum juga tahu tentang perasaannya terhadapku, aku sulit membaca
sikap dan ucapannya terhadapku, aku pikir sikap dan ucapannya terhadapku sama
saja dengan teman-temanku. Lalu bagaimana pula aku bisa mengetahui perasaannya
yang sesungguhnya kepadaku, jalan lain untuk mengetahui perasaannya terhadapku
adalah dengan memperkenalkannya kepada orang tuaku, aku rasa dengan cara ini
aku bisa mengatahui perasaannya terhadapku. Jika memang ia mempunyai rasa yang
sama denganku, pasti ia akan menerima ajakanku ini. Lagi pula orangtuaku pasti
sangat senang jika mereka tahu aku mempunyai teman dekat seperti dia.
Dan
ternyata setelah aku mengajaknya untuk ku perkenalkan dengan keluargaku dia
malah menolaknya. Sejak dari situ aku merasa bahwa perasaanku ini hanya
bertepuk sebelah tangan, sebenarnya perasaan ini kebenarannya masih di ragukan
tapi dari cara dia menolak ajakanku, sepertinya dia sama sekali tidak mempunyai
rasa yang sama denganku.
Sebagai
manusia aku tidak boleh berbuat gegabah dan berlaku egois seperti apa yang
pernah alya katakan kepadaku “ berpikirlah sebelum bertindak, dan janganlah
biarkan setan menunggangi hati kamu sebab kemarahan yang sedang engkau rasa”.
Jika hati ini sedang panas apabila mendengar ucapannya pasti dengan segara akan
reda sebab ucapannya yang santun dapat menyejukkan setiap pendengarnya.
Disaat
aku sedang berjalan-jalan dengan teman-temanku, tiba-tiba saja aku melihat alya
bersama dengan seorang lelaki. Awalnya aku berpikir bahwa ini hanyalah
halusinasiku saja, tapi teman-temanku membenarkanku mereka juga melihat hal
yang sama seperti aku. Lalu aku pun mengejar alya, dan ternyata itu memanglah
alya tapi yang mengejutkanadalah dia
sedang bersama abangku. Ada
apa diantara mereka?
Tanpa
basa-basi aku pun langsung bertanya kepada abangku, “sedang apa abang bersama
alya”mendengar
pertanyaanku sepertinya mereka berdua sangat terkejut, lalu aku pun mencoba
untuk mengulangi pertanyaanku dan akhirnya abangku menjawab, “ kami sedang
jalan!memang kenapa?”
‘’
kalian pacaran?” tanyaku
Alya
pun mencoba menghindar dari pertanyaanku dengan bertanya balik “ kalian saling
kenal?”
‘’
iya.. ini adik aku!” kata bang razi
Sepertinya
ada yang tidak beres, aku pun mencoba untuk mengingatkan alya bahwa
“
ciri-ciri orang munafik ada 3 dan salah satunya adalah jika berkata ia
berdusta!”
Lalu
dengan spontan alya menjawab “ iya abang kamu adalah kekasih aku!”, wajah
abangku memerah setelah mendengar pengakuan dari alya. Sebenarnya hatiku luka
mendengar hal itu, tapi aku gak boleh membawa emosiku, aku coba untuk rileks
dan bertanya lagi
“
lantas, apa arti semua ini?”
‘’
sebenarnya aku hanya berniat untuk merubah kamu baim… aku gak ada niat apa-apa,
dan ini juga diminta oleh razi abang kamu. Dan aku gak punya maksud apa-apa…
ini semua aku lakukan demi kebaikan kamu”
‘’
kamu sudah mempermainkan perasaanku, kamu sudah menyelipkan kebaikan disamping
kebohongan, kenapa tidak kamu katakan dari awal bahwa kamu adalah kekasih
abangku?”
‘’
untuk apa aku harus mengatakan hal itu kepada kamu, kalau dari awal aku katakan
hal itu kepada kamu pasti kamu tidak akan pernah menerima aku sebab aku
hanyalah utusan dari abangmu”
‘’
sudah berhentilah mengelak, intinya saat ini adalah kamu sudah menghancurkan
harapan aku dan kamu bang… kamu sudah mempermainkan hidupku dan perasaanku.
Ternyata kamu dan abangku sama saja…” kataku dengan begitu emosi
‘’
aku harap kamu bisa mengerti, semua ini ku lakukan demi kebaikan kamu dan tidak
ada sedikitpun niat kami untuk menyakitimu. Yang kami inginkan hanyalah bahwa
jika kamu mau berubah dan meninggalkan semua kebiasaan burukmu”
‘’
mungkin saat ini kamu tidak akan bisa mengerti itu, tapi abang harap kamu tidak
kembali lagi kepada tabiat burukmu. Abang mengerti perasaanmu, abang juga bisa
merasakan apa yang sedang kamu rasakan saat ini tapi abang mohon agar kamu
jangan marah kepada Alya, karena ini semua abanglah yang bertanggung jawab.”
Kata Abangku seraya memelukku dengan tanda kasih sayangnya terhadapku
Pelukannya
itu telah membuat hatiku luluh, awalnya memang aku begitu marah dan sakit hati
kepadanya tapi aku coba mengerti dan kini ku memahami “ tidak ada yang terindah
di muka bumi ini kecuali kebersamaan dan cinta kasih”
Perlahan
seiring berlalunya waktu aku pun mencoba untuk tidak memandang sebelah mata
dalam situasi ini ku coba memahaminya walaupun masih terasa sakit di hati.
Biarpun
kenyataan pahit itu harus aku terima aku tetap tegar dan aku gak akan pernah
kembali ke masa laluku yang kelam itu. Meskipun alya sudah memilih abangku
sebagai kekasih hatinya. Mungkin Allah sudah
menyiapkan cerita indah dibalik semua ini, untuk itu aku harus tetap tegar,
mungkin saja ini adalah cobaan dari awal bangkitnya baim yang baru. Baimyang lebih baik dari hari kemarin_____________________
Aku
renaldy seorang mahasiswa yang terkenal cool dan tidak banyak bicara, aku biasa
dipanggil aldy. Aku sendiri gak tahu kenapa mereka semua mengatakan aku cool.
Padahal aku rasa sikap dan penampilanku biasa-biasa saja. Tapi, ya sudahlah hal
semacam itu gak perlu di bahas panjang lebar, yang jelas sikap dan penampilan
aku sama sekali tidak menyakiti ataupun membuat mereka rugi. Karena
kenyataannya pembawaan diriku memanglah seperti ini, jadi terserah mereka saja
mau memberikanku tittle cowok cool, aku sih fun ajaa selama itu masih dalam
batas kewajaran.
Pagi
ini aku harus cepat pergi ke kampus sebab pagi ini aku ada jam mata kuliahnya
pak rinto, pak rinto itu guru paling killer di kampus aku dan dia paling
tidak suka dengan mahasiswa ataupun mahasiswi yang tidak tepat waktu dan dia
adalah dosen yang memprioritaskan kedisiplinan. Pokoknya pagi ini aku tidak
boleh terlambat, karena aku tidak ingin dosen favourite ku itu kecewa denganku.
Tapi,
pagi itu tidak semulus yang ku bayangkan. Di tengah jalan ketika sebentar lagi
aku hampir sampai ke kampus tiba-tiba saja sebuah mobil melaju kencang yang
hendak menyalip kendaraanku menabrak seorang bapak yang sedang menaiki sepeda.
Dan anehnya lagi, mobil yang menabrak bapak itu lari. Ya.. sebagai manusia yang
punya naluri, aku harus membantu bapak itu dengan membawanya ke klinik terdekat
biarpun saat ini aku harus dikejar deadline.
Lima belas menit aku sudah kehilangan waktuku, bisa-bisa pak rinto
marah besar kepadaku. Pokoknya secepatnya aku harus sampai ke kampus. Dan
setelah aku sampai ke kampus, ternyata kelas kami kedatangan mahasiswi baru.
Bagaimana bisa aku masuk, rasanya tidak sopan jika aku masuk saja apalagi
sedang ada mahasiswi baru yang sedang memperkenalkan dirinya. Hem.. aku tunggu
aja deh!
Setelah
aku tunggu sampai mahasiswi baru itu selesai memperkenalkan dirinya, aku pun
baru masuk ke kelas. Huh… seperti yang ku bayangkan, pak rinto memarahiku, tapi
aku hanya bisa diam dan meminta maaf kepada pak rinto dan pak rinto bertanya
penyebab keterlambatan aku yang tidak biasa itu. Dan aku pun menjawab “ di
tengah jalan tadi ada yang korban tabrak lari pak… jadi saya membantu korban
tabrak lari itu dan membawanya ke klinik terdekat”
Dan
tiba-tiba saja mahasiswi baru itu membenarkan ucapanku “ iya pak.. tadi saya
melihat ada tabrakan di perempat jalan dekat kampus ini pak.. dan saya juga
lihat dia sedang membantu korban tabrak lari itu pak..”
hingga akhirnya pak rinto pun mengizinkanku
masuk dan tidak menghukumku, hal seperti inilah yang tidak aku inginkan. Mau
gak mau aku sudah berhutang budi kepada mahasiswi baru itu, tapi ya sudahlah
aku bersyukur saja akhirnya pak rinto tidak menghukumku.
Saat
istirahat rio teman dekatku bilang “ lo kok gak bilang terimakasih sih al… sama
tu cewek?”
Aku
pun menjawab “ untuk apa aku berterimakasih ke dia? Yang terjadi itu memang
benar kok!”
‘’
iyaa tapi kalau dia gak ngebantuin lo tadi, pasti lo udah di hukum sama pak
rinto!”
Memang
benar apa kata rio bahwa aku harus berterimakasih kepada mahasiswi baru itu,
tapi.. aku gak punya keberanian untuk berterimakasih kepadanya, jujur aja aku
gengsi untuk lakuin itu. Tapi, kalau aku gak berterimakasih ke dia dimana hati
nurani aku.
Lalu
aku pun menemui mahasiswi baru “ hei… terimakasih ya”
‘’
namaku Dini, dan sama-sama udah kewajiban!”
‘’
tapi… jujur aja aku gak suka di bela seperti tadi, jadi.. ya seperti sekarang
ini deh. Mau gak mau aku harus membalas budi kamu!”
‘’
kamu gak perlu membalasnya, dan aku pun gak butuh sesuatu dari orang yang hanya
berniat membalas budinya kepadaku. Jadii.. ya gak perlu pusing memikirkan balas
budi, karena aku gak butuh balas budi dan yang aku bilang tadi kan memang benar adanya,
jadi buat apa harus balas budi”
Perkataan
cewek tadi sangat mengganggu pikiranku, sepertinya kata-kata dia tadi sangat
dalam artinya. Memang aku salah berkata? Tapi ya sudahlah, dia adalah dia dan
aku adalah aku.
Keesokan
harinya, ketika aku sedang berjalan-jalan sendiri di malam hari. Tiba-tiba saja
seorang pengamen di kejar-kejar orang banyak, karena pengamen itu tidak
membayar makanan yang sudah di makannya. Karena merasa kasihan, aku pun
menolongnya dan membayari makanan yang telah di makannya. Dan anehnya lagi,
Dini mahasiswi baru itu menghampiri aku “ wah.. gak nyangka ternyata kamu baik
juga ya”
Sepertinya
dunia ini begitu sempit, sampai-sampai aku harus bertemu dia lagi rasanya dunia
ini selebar daun kelor. Dan pujiannya itu sangat tidak enak di telingaku, “aku
gak suka di puji seperti itu dan ini adalah kewajiban aku sebagai manusia,
menolong yang lemah”
‘’
ow.. okey, terserah kamu deh! Aku jalan dulu ya!”
Huh…
cewek aneh plus cewek kayak hantu, di kampus jumpa di sini juga jumpa. Tapi, ya
sudahlahgak perlu di bahas. Sesampainya
aku di rumah, aku masih saja memikirkan Dini. Entah kenapa, hal itu bisa
terjadi padaku.
Pagi
ini, karena tidak ada jam kuliah aku pun memutuskan untuk pergi ke toko buku,
aku rasa lebih baik aku nongkrong di toko buku dari pada harus keluyuran.
Sampai di sana,
ketika aku lihat-lihat buku tiba-tiba saja aku bertemu dengan Dini. Aduh…
kenapa sih ini, lagi-lagi aku harus bertemu dengan Dini. Dia pun menyapaku, dan
aku hanya tersenyum.
Ketika
Dini membayar bukunya di kasir, ternyata uangn tunainya tidak ada dan yang ada
Cuma kartu kredit. Tapi untuk hari ini, membayar buku tidak bisa dengan kartu
kredit,enggak tahu kenapa alasannya tapi yang jelas sependengaran aku begitu.
yah.. lagi-lagi karena kasihan aku pun membantunya dengan membayar uang buku
yang telah diambilnya itu. Tapi, dia malah menolak dan mengatakan bahwa dia gak
mau berhutang budi. Ya, Karena dia gak mau aku pun gak jadi membayar bukunya
itu,aku pun selangkah untuk pergi, tapi
tiba-tiba saja dia memanggilku. Dan mengatakan bahwa dia mau menerima bantuanku
dengan syarat ia pasti akan mengganti atau membalas budi kepada ku.
Dasar
cewek aneh, sukanya ikut-ikutan dibantu gak mau tapi akhirnya mau juga. Lalu
Dini pun mengajakku ke restorannya sendiri dengan maksud berterimakasih
kepadaku. Tapi, aku menolaknya dan dia berkata “ pemberian itu tidak boleh di
tolak, apalagi dengan maksud berterimakasih!”
“kata-kata
dia ada benarnya juga, dan gak salah kalau aku menerima ajakannya” gumamku
dalam hati
Sampai
disana, dia menyuguhkanku menu utama di restorannya itu. Dan disana ia banyak
bertanya kepadaku tentang sikapku kepadanya. Lalu aku menjawab “ memang aku
lakuin itu Cuma sama kamu?”
‘’
terus?” Tanya Dini“ kamu tuh GR banget
ya, sikap aku memang seperti ini!”
‘’oow
begitu!”
Selama
makan siang, dia banyak bercerita dan banyak bercanda kepadaku. Dia juga
berusaha mengajakku untuk tertawa bersama dengan candaan-candaan konyol, dan
dia juga gak seperti yang aku pikirkan selama ini.
Sejak
makan siang itu, hubungan kami berlanjut. Kami sering telpon-telponan, dan
kalau pulang kuliah kami juga sering nongkrong di café. Semua orang yang ada di
café itu heran melihat kedekatan antara aku dan Dini. Dan Dini juga sering
mengadu kepadaku bahwa mahasiswi yang ada di kelas mereka maupun tidak sekelas
bertanya tentang hubungan kita berdua, dan mereka juga bertanya kenapa Dini
bisa dekat dengan ku. Aku pun tertawa, dan Dini bertanya lagi
“ memang apa arti kedekatan kita ini al?”
Tanya Dini
Aku
pun kembali bertanya “ mau kamu apa”
‘’
mau aku sama seperti mau kamu”
“
memang kamu tahu maunya aku apa?”
‘’
emang apa?”
‘’
aku mau kamu jadi seseorang yang berarti di hati ku, memang kamu juga mau itu?”
‘’
iya trus..?” Tanya Dini
‘’
trus… kamu mau jadi pacarku”
‘’
ehm… sebenernya”
‘’sebenarnya
apa?’’
‘’
sebenernya aku juga mau jadi pacar kamu”
Oh
my God… thank you so much, akhirnya aku di terima menjadi pacarnya. Sungguh
kedatangan Dini di dalam hidupku sangatlah membawa dampak perubahan bagi
hidupku, seakan hidupku menjadi lebih berwarna. Mungkin dengan aku berpacaran
julukan cowok cool itu akan hilang seiring berjalannya waktu, karena semenjak
kedatangan Dini. Hidupku tidak kaku lagi seperti yang lalu-lalu _______